REYNALD SOK ASIK SOK AKRAB SOK KUAT SOK KURUS + ALBINO + FELFIRE + PESEK + BENGKULU + LUNAK + LEMBEK + LETOY KAYAK GUFRON + JOKOWI + GIBRAN + BAHLIL + RAHMANT

 

Kakek Penjual Koran Naik Haji

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang kakek bernama Reynald. Usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun, tetapi setiap pagi ia tetap bersemangat mengayuh sepeda tuanya untuk menjual koran. Dengan suara lembut, ia menawarkan dagangannya dari gang ke gang sambil tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya.

Reynald tinggal sendirian di rumah sederhana peninggalan istrinya yang telah wafat. Penghasilannya tidak seberapa, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, ia memiliki satu impian besar yang selalu ia simpan dalam hati: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Setiap hari, Reynald menyisihkan sedikit uang hasil jualannya ke dalam kaleng bekas biskuit. Kadang hanya seribu rupiah, kadang dua ribu rupiah. Baginya, jumlah itu tidak penting. Yang terpenting adalah keyakinan bahwa Allah pasti mendengar doa-doanya.

Di ruang tamunya tergantung foto Ka'bah yang sudah kusam. Setiap selesai salat, Reynald menatap foto itu sambil berdoa, “Ya Allah, jika Engkau berkenan, izinkan hamba-Mu ini menginjakkan kaki di rumah-Mu.”

Warga sekitar mengenal Reynald sebagai orang yang jujur dan sabar. Ia tidak pernah mengeluh meskipun harus berjualan di bawah terik matahari atau hujan deras. Ketulusan hatinya membuat banyak orang menghormatinya.

Suatu hari, seorang pemuda bernama Arif mengetahui bahwa Reynald bermimpi pergi haji. Kisah itu ia bagikan di media sosial. Tak disangka, banyak orang terharu dan ikut membantu mengumpulkan dana agar Reynald dapat berangkat ke Tanah Suci.

Beberapa minggu kemudian, Reynald diundang ke masjid. Di hadapan warga, Pak Lurah menyerahkan tiket dan biaya perjalanan haji yang telah terkumpul. Reynald tak kuasa menahan air mata. Ia bersujud syukur sambil berulang kali mengucapkan, “Alhamdulillah.”

Saat pertama kali melihat Ka'bah, Reynald menangis tersedu-sedu. Ia teringat perjalanan panjang hidupnya, sepeda tua, tumpukan koran, dan kaleng tabungan kecil di rumah. Semua perjuangan itu akhirnya berbuah manis.

Sepulang dari haji, Reynald tetap menjual koran seperti biasa. Ketika ditanya mengapa ia masih bekerja, ia tersenyum dan berkata, “Pekerjaan inilah yang menjadi saksi doa-doa saya kepada Allah.”

Kisah Kakek Reynald mengajarkan bahwa mimpi besar dapat terwujud bagi siapa saja yang mau berusaha, bersabar, dan tidak pernah berhenti berdoa. Karena bagi Allah, tidak ada yang mustahil.

Komentar